Ditengah kerumunan Abdi berjalan. Ada sesuatu yang ingin direncanakan. Dalam
Arus pejalan kaki memang slalu berantakan, dan itulah satu-satunya keteraturan.
Dia menuju rumah Mae, telah biasa menjadi tempat berkumpul.
langkahnya, sejenak merasa melupakan Tuhan, tapi ia berharap bimbingan tuhan
selalu menyertainya, bahkan dalam ketidak ingatanya. Satu batang rokok
diraihnya dari atas meja. Satu awal tegur sapa adi pada teman-temanya, juga
Mae. Botol bir tertata diatas meja beserta gelasnya.
beberapa terisi.
“Kau baru
tertinggal sedikit”, kata Romi.
Seperti
kebanyakan akhir pekan, 9 orang sahabat
berkumpul. Romi,Mae, Suci,Yuda, Tika, Dimas, Putri, dan juga Abdi.
“Kita akan
mendirikan Kafe”, Romi melanjutkan, ”bagaimana menurutmu? perlu dukungan semua”.
Mereka semua
memang bertemu di kafe, dibeberapa kafe lebih tepatnya lagi. Sepayah apapun
kafe yang penting adalah
tempat berjalan-jalan.
“kita akan memiliki kafe yang sexy”,
kata putri.
Abdi belum
berbicara sedari datang, ia menuangkan air panas untuk kopinya, sambil merokok.
Beberapa memang tidak ‘minum’, hanya minum kopi.
Dan kemudian
Dimas juga berbicara, ”seperti yang pernah lo bilang hidup harus terasa indah”.
Abdi terus
mendengar, dan diskusi ini sepertinya sebuah persuasive mereka untuk Abdi.
“Disini kita
akan buat kafe, sebisanya…” kata Yuda sambil tersenyum.
“Rak buku dan TV
kabel! pasti menarik, kita akan bertemu banyak orang!” kata Tika.
Satu persatu pendapat dikemukakan. Setelah Abdi
datang, diskusi pembuatan kafe ini benar-benar berjalan. Namun ini hanya
cerpen, bukan novel. Tak perlu panjang lebar,
yang pasti mereka benar-benar bersahabat. Rokok
Abdi hampir mencapai hisapan-hisapan terakhir. Abdi meneguk lagi kopinya,
sedikit, dan Mae bersandar dipundaknya. Ide konyol bermunculan, Abdi ikut
tersenyum
Post a Comment