Skip to content

part 3…

“Akan terbayang
kafe swadaya itu… kita akan sibuk”, Abdi membuka pendapatnya.

“Mungkin.. ya…”, balas mae, “tapi akan menyenangkan”.

”Semoga banyak orang akan datang, kita bisa hidup dari pertemanan ini”,
kata Romi.

”Ini terkesa suatu cita-cita yang pribadi, tidakkah terasa begitu?” kata
Abdi.

” Maksudnya?” tanya dimas, juga dengan nada datar.

Seperti kata-kata yang muncul begitu saja. Abdi berkata, “kita harus
bersyukur pada sang pemberi kehidupan, menjalani waktu layaknya manusia
beruntung.”

Sesaat suasana
hening.

“Abdi.. sejak
kemarin kita ga pernah tau apa yang datang besok”, kata suci sambil tersenyum, “kita
berhak menjalani ini dengan bersyukur”.

“Mungkin suatu
saat kita benar-benar merasa bersyukur”, kata tika.

“Apapun yang kita
lakukan, kita akan menyesal… masa gitu aja ga tau?” tambah yuda ringan tapi penuh
ekspresi dan gerak tubuh.

Dimas pun
ikut-ikutan, “abis makan pil ya bung?”, sambil mendekati Yuda.

”Mungkin aja kita
bisa bersyukur dengan kafe ini, atau juga pas kafenya udah ga ada, atau selalu
bersyukur deh!” teriak Yuda.

Tika mengiakan, sambil memerapikan rambut dengan satu tangannya,

“semua mungkin…”, kata Tika lagi.

“Mungkin ketika kita memiliki partai”, kata Romi, dan semua tertawa, Abdi
hanya tersenyum.

”Ketika semua tampak bersahabat, dan para penindas bisa kita tolak
mentah-mentah, dan semua hidup dalam kecerdasan, yaitu: ketidakpedulian yang
dipenuhi rasa cinta”, kata Romi lagi seperti rapper.

”Cerdas ya”, Abdi berkata seperti tak bertanya.

”Nagawur!” kata Dimas.

Mae beranjak dari sandarannya, Abdi tetap diam.

”Sudahlah, kau
slalu begitu… what’s the point?…” kata Mae.

Abdi diam
sejenak, “OK! gue buatin neon box!”.

Jam 11 malam, beberapa menginap, beberapa pulang.



Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*