Skip to content

part 4 (end)

Setiap hari kafe ramai. Pedagang
makanan, asongan rokok, bahkan taransportasi umum pun coba mengais rezeki
disini.

“Ini tampak tidak keren”, kata Tika.

* * *

Sekitar 20an
orang mampir di kafe hari ini. Beberapa membaca buku, beberapa membahas acara
TV, beberapa pacaran. Dimas nonton TV juga, tapi cuma kaya lagi bengong. Abdi
baru saja datang. Dia iseng ke westafel dibelakang bar untuk mencuci gelas,
cangkir, dan piring-piring kecil yang dipakai.

Tiba-tiba Mae
membisikan sesuatu “jika kafe ini bubar, bagaimana menurutmu?”.

Abdi diam saja
tertunduk hingga Mae membelokkan pipi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Ga tau”, kata
abdi santai tapi seperti memang jawaban yang telah dipikirkan.

Mae menatap
Abdi, tak jelas maksudnya, ”semua ingin begitu”, kata Mae, ”mereka berpikir kau
akan sedih”.

”Apa mereka
bersedih?” tanya Abdi.

”Sangat!” jawab
Mae.

“Terserahlah..”
jawab Abdi, ia pun mencuci piring lagi.

* * *

Perasaan
berubah-ubah, dunia tetap sama. Semua terasa begitu memuakan.



Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*