kembali nyampah….
ttg kaderisasi perguruan tinggi, ok, terserah saja…
filosofis
Gerakan mahasiswa bukan gerakan moral. Kita
ga terlalu meyakini sama kualitas moral kita. Dengan identitas mahasiswa yang
kita punya, gerakan mahasiswa seharusnya menjadi gerakan intelektual. Gerakan
yang dibangun dengan semangat keterpelajaran, ilmiah, dan berpijak pada
kenyataan. Gerakan yang dibangun karena tanggung jawab kita, atas pengetahuan
dan kemampuan yg kita punya. Karenanya kampus harus diyakini sebagai lingkungan
pendidikan. Tempat dicarinya jawaban atas pertanyaan. Kemahasiswaan memungkinkan
kegiatan berpikir, bukan pemuasan hiburan. Kemahasiswaan adalah bercita-cita
bukan sekedar berkegiatan. Dan kemahasiswaan adalah hiburan yang layak
dibanggakan. Moral itu bisikan tuhan, bisa berarti kebijaksanaan.
Moral tidak perlu diperdebatkan. Moral dibangun oleh sikap atau juga prinsip.
Namun sikap dibangun melalui kebiasaan. Dan kebiasaan lahir melalui
pengetahuan. Pengetahuanlah yang harus ditanamkan, bukan moral, karena moral
akan terbangun dengan sendirinya. Kant: instuisi tanpa konsep itu buta.
strategis
Daya tawar: untuk menjadi mahasiswa seutuhnya. Sekali lagi, pemahaman harus dibangun, pemaksaan moral. Menanggapi
kampus saat ini, konten yang perlu dibawa:
o Karena sifat pedagogis perguruan tinggi,
mahasiswa berada dalam proses pendidikan orang dewasa. Dengannya, akan dicapai
tidak buta pada realitas yang hadir. Mahasiswa akan memahami yang terlihat dan
yang ada dibalik kenyataan. Untuk itu semua diperlukan kultur ilmiah. Mahasiswa berpijak pada: rasional, empirik, dan
dialektika. Suatu pencarian kemungkinan kebenaran.
o Mahasiswa memahami bahwa solidaritas itu
rasional. John Nash berpendapat: kebaikan optimum sebuah sistem adalah bukan
ketika setiap orang dibiarkan bebas dan bersaing (spt pendapat Adam Smith),
tapi ketika setiap orang merasakan daya tawar dari sistem tersebut. Sikap
individualistik terbukti tidak menghasilkan sesuatu yang optimum. Solidaritas
disini adalah integritas, suatu
bentuk kerja sama dengan melibatkan perasaan. Ini biasa juga diistilahkan
dengan brotherhood, yaitu rasa kepemilikan, menjaga, dan tidak mau kehilangan.
o Pengenalan budaya massa sebagai sub-kultur
pseudo rasional. Budaya Mahasiswa
seharusnya berpikir dan memperbaharui. Pseudo rasional disini berarti: dangkal,
sesaat, menipu, dan merusak. Dan Budaya massa disini adalah: strategi pemasaran
prodak industri dengan cara mengakomodasi ego individu. Sehingga budaya massa
cenderung memanjakan tapi komersil. Saat ini generasi muda sedang terserang
budaya massa. Bukan sekedar mengisi waktu luang, membuat waktu luang untuk
budaya massa.
o Bermain
yang tidak main-main. Perlu ada daya cipta atau kreativitas. Atas apa yang kita
tahu, diberikanlah sesuatu yang sekiranya memenuhi kebutuhan. Karena main-main
tersebut kampus menjadi tempat lahirnya pertanyaan-pertanyaan. Dan karena
sifatnya yang ilmiah, postulat-postulat dipakai secara bebas untuk
menerjemahkan realitas. Bermain bisa juga berarti bermain teka-teki atau juga
objektif yang bebas. Kebetulan… ini yang menyebabkan kampus ramai, dan banyak kisah
romantis.
Teknis
inti: kemahasiswaan berasosiasi pada mahasiswa, bukan kepedulian. Interaksi lapangan dan diskusi kelompok ditengah-tengah
acara lapangan. Kegiatan lapangan diharuskan merupakan bentukan yang mendalam,
menjelaskan tema kegiatan, dan milik perguruan tinggi yang tidak ditemui di tempat lain manapun.
Karena keindonesian dan keterpelajaran, tokoh Mingke (generasi awal pelajar
pribumi) mungkin bisa dipakai. Perlu digambarkan juga ekspresi optimisme kemahasiswaan.
Diskusi dijalankan dengan komunikasi 2 arah. Panitia mengarahkan peserta untuk
memahami konten dengan pertanyaan peserta sendiri. Diktat-diktat sejarah dan
lain-lain dibagikan untuk dibaca sendiri, untuk menarik ketertarikan peserta dengan memiliki pertanyaan setelah acara selesai.
Detail
teknis kemudian dibuat dengan mempertimbangkan usaha dan kesempatan.
Post a Comment