aku
pernah merasa tidak sulit untuk berkeyakinan…
kini,
setiap mendengar bunyi kitab suci atau pun puji-pujian tuhan dan rosul, selalu
teringat masa lalu… saat semua berserah pada keyakinan.
saat
kemudahan dan kesulitan yang tidak terkhawatirkan. keyakinan dipandang hormat,
kesempurnaan menjadi cita-cita. walau tetap menyadari tak mungkinnya
kesempurnaan, keyakinan indah terlihat. kitab suci dan puji-pujian adalah
nyanyian bersama. dan dunia yang terbayang tidaklah terik, redup yang santai. seperti
selalu ada pelangi setiap kali hujan, atau jingga di sore hari.
walau disebrang jalan ada beberapa coret-coret dinding. orang-orang
yang sebenarnya jauh dari mengancam, dengan tindik dan tatto di sekujur badan. dan
tidak jauh dari situ ada penghisap darah merpati. seperti ada keyakinan aneh di
wajah orang-orang itu, mungkin keyakinan yang belum terdefinisikan. dan semua
memandang prihatin, berdoa, dan saling menasehati. mungkin mereka hanya ingin
defenisi itu, seperti tak pernah cukup. seperti merelakan diri masuk penjara
atau mengidap amnesia. terlihat menarik sekaligus mengerikan…
aku berdoa, dan dunia redup selalu diramaikan kitab suci
atau pun puji-pujian, diselingi tegur sapa ringan orang-orang atau juga suara
angin.
kini dunia terasa terang seperti menelanjangi. kadang
teriknya terasa di kepala. pakaipun menjadi alasan-alasan, semua beragam, tapi
membosankan. tetap tidak menarik walau berisik. ada banyak senyum membosankan
dan tangis yang kasihan. setiap mendengar kitab suci atau pun puji-pujian aku
teringat masa kecil ku, melepaskan ku
dari kenyataan. pada kenyataan masa kecil, dandalam kenyataan hanya ada aku dan
suara kitab suci atau pun puji-pujian, membuatku ingin menangis. walau takkan
pernah menangis. aku mulai terbiasa dengan itu. saat ini, apa yang perlu
ditangiskan?
Post a Comment