ingat kebiasaan teman klo orang yang lagi ngobrol: "ah.. bacot!" atau temen yang lain, dia sering spontan emosi kalo denger pendapat orang: "muncung mu itu!" ada suatu bentuk gaya disitu, sedikit ada nuansa dry humour, karena serius yang tidak dibuat-buat tersebut, terasa tidak membosankan dan menjadikannya kerja yang serius.
harusnya tak ada yang salah dengan istilah bacot dan muncung. itu cuma kata yang ter-peyorasi hingga terkesan miring. sebaiknya lebih akrab lagi ajakan untuk bacot bersama, bermuncung ria, hingga menggantikan kata: diskusi.
dosen didepan kelasmenguraikan sesuatu, menjelaskan ini dan itu, lalu tanggapan mahasiswanya, juga ini dan itu, berpikir, berdiskusi secara runut, taat asas, dan sistematis. dialog lebih dari satu kepala memang perlu dalam batas objektif agar berjalan dengan pemahaman.
dan semua orang memang pernah melakukan aktivitas bacot. dosen, guru, pejabat, kakak, adik, hingga tokoh terkemuka tentu pernah juga membicrakan dan menerangkan tentang kejadian tadi pagi, makanan, mimpi buruk, menjelaskan perasaan, atau juga diskusi dengan tema-tema tertentu.
membuatku berpikir: tak perlu ada penghormatan berlebih atas subjek. cukup hormat, tak perlu berlebih, karena akan menyakitkan.
kita semua pernah bacot, jadi tenang saja..
-
‹ Home
Contents
-
Categories
-
Tags
-
Archives
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- November 2008
- October 2008
- September 2008
- August 2008
- July 2008
- June 2008
- May 2008
- April 2008
- March 2008
- February 2008
- January 2008
- December 2007
- November 2007
- October 2007
- September 2007
- August 2007
- July 2007
- June 2007
- May 2007
- April 2007
- March 2007
- February 2007
- January 2007
- December 2006
- November 2006
- October 2006
- September 2006
Blogroll
-
RSS Feeds
-
Meta
Post a Comment