Skip to content

gretongan by TiBen

Pada episode awal bangsa kita berdiri, ditetapkan cita-cita Trisakti: berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi, luhur dalam berbudaya. Meski anggaran kemiskinan dinaikkan dari sebesar Rp 54 triliun di 2007 ke Rp 62 triliun di 2008, usaha pengentasan kemiskinan belum terlihat jelas. Makanisme survey memang belum mengkategorikan miskin  berdasarkan kurangnya akses terhadap pelayanan dasar dan rendahnya indikator-indikator pembangunan manusia. Dari data versi World Bank, Indonesia telah berhasil mengurangi kaum miskin sebanyak 2,13 juta orang dengan indikator pendapatan diatas US$ 1,55 per hari. Jika misalnya saja dirubah menjadi 1,6 atau 1,7 dollar per hari, data tentang turunnya angka kaum miskin pasti tidak terlalu bagus. Daya beli rata-rata sebesar 8000 perhari, diperparah dengan koefisien gini (KG). Kita adalah negara dengan KG yang parah. Pendapatan perorangan dari data diakhir  2007, Aburizal Bakrie menjadi orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan 5,4 miliar dollar AS, meningkat beberapa kali lipat dari tahun 2006 yang sebesar 1,2 miliar dollar AS. Jika kita mau lihat sekeliling, fakta kemiskinan memang lebih parah dari data yang ada.  Soal pendidikan, anggaran pendidikan 2008 sebesar 42,24 triliun, lebih kecil dari sebelumnya 44,7 triliun (yang juga dibawah 20%). Kemudian, tak ada undang-undang negara yang mengatur gaji guru dan melindungi kesejahteraan guru yang merupakan penggiat pendidikan. Catatan terbesar inflasi pada akhir tahun disumbangkan oleh sektor pendidikan yaitu 8,7%,  diikuti sektor makanan sebesar 8,56%. Kedua hal tersebut memang benar-benar naik harga. Ketika berkenaan dengan status, pendidikan menjadi komoditas.

Ironis, mungkin hanya kata itulah yang pantas. Dengan begitu banyaknya masalah yang hadir, sebaiknya dilakukan koreksi atau sekedar kegiatan mempertanyakan kembali mengenai pendidikan kita. Dan untuk itu semua, kita mesti yakinkan diri bahwa kita adalah bangsa yang mandiri dalam berpikir. Atau, kita memang sudah melupakan masalah ini, atau mungkin juga belum menjadikan kemandirian berpikir sebagai masalah penting. Setidaknya beberapa kebijakan pemerintah boleh dibilang menggunakan susunan atau ‘formula’ import cukup memperlihatkan hal tersebut. Selain itu, boleh dibilang kita juga mendatangkan dan mengadopsi ilmu, teknologi, komoditas, hingga budaya. Kita praktis tak mengajukan hal penting apapun. Bersamaan dengan keadaan tersebut, pendidikan kita terus berjalan. Menurut kami akan sulit membahas kekeliruan praktek pendidikan saat ini, kecuali pembahasan tentang aturan-aturan dan target pendidikan kita. Dalam jalannya pendidikan, semua tampak biasa, dikerjakan sewajarnya, dan tidak terlihat menyalahi suatu apapun. Menurut kami, pembahasan mengenai hal ini memang harus dimulai dengan arah tujuan pembangunan pendidikan kita.
Sangat menarik untuk disampaikan, bahwa Indonesia adalah negara pengimpor daging dan hasil pangan. Juga negara yang terkesan tidak peduli untuk usaha preventif hingga bermunculan masalah lingkungan hingga tata kota. Dan juga, karena birokratisasai (suatu istilah), politik sebagai sebuah ilmu menjadi hanya sebagai instrumen kecil yang biasa dipakai para pengamat. Dari semua kondisi diatas, kami merasa pendidikan kita sebagai proses yang nyaris tak berdampak. Contoh lain: seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi termakan isu populer atau bahkan bentuk-bentuk hiburan dalam media massa yang sifatnya pseudo-rasional, dangkal, dan berkepentingan komersil. Dengan segala kondisi yang disampaikan disini, harus diakui ada masalah dalam pelaksanaan pendidikan kita. Dari sudut panadang budayawan atau filsuf, hal-hal tersebut mungkin merupakan sebuah metanarasi yang perlu dibongkar. Kondisi kemapanan-kemapanan yang terlihat biasa-biasa saja saat ini, biasa memunculkan masalah yang tidak diduga.
Dengan melihat permasalahan yang muncul, pendidikan harus benar-benar menjadi bagian penyusun dalam budaya masyarakat. Dalam hal ini negara menjadikan pendidikan sebagai bagian kerangka pembangunan. Pendidikan merupakan bagian pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan berperan penting untuk mewujudkan IPOLESOSBUD HANKAM yang sehat. Dengan wawasan tersebut, masa depan terdidik adalah masa depan bangsa, begitu juga sebaliknya. Dengan mengabaikan gejala tragedy of common, tingkat kesejahteraan akan berbanding lurus dengan tingkat nasionalisme warga negara. Nasionalisme sendiri bisa menjadi solusi kemanusiaan atas segala krisis yang terjadi. Meminjam konsep Alhtusser, pendidikan berfungsi sebagai ideology state aparatus (ISA) yang bisa saja membantu dalam pencapaian negara: kebaikan bersama. Sama seperti penyusun-penyusun lainnya, misalnya keluarga, pendidikan adalah kegiatan penanaman budaya. Melihat kondisi yang ada, memang perlu perjalanan panjang untuk mencapai kesana. Dan ongkos terpenting yang harus ada untuk mencapainya adalah harapan.
Kita memang perlu sedikit coba mempertanyakan hal-hal yang sedang terjadi. Bahkan untuk pertanyaan yang tidak popular, seperti: Kapan terakhir kali kita diminta untuk kritis? atau pertanyaan yang lebih memprihatinkan: kapan terakhir kali pertanyaan kritis kita dijawab dan dipedulikan? Dan harus diakui, bangsa kita lebih berorientasi pada gaya dibandingkan kegiatan berpikir. Semoga belum terlupakan, kurikulum perguruan tinggi seharusnya menghasilkan alumni yang bervisi. Dan semoga kita tidak menjadi lebih sering memilih gaya dibandingkan mengajukan sebuah gaya. Tanpa suatu usaha dan berpikir dalam menjawab dan mengajukan budaya, suatu bangsa akan kebingungan dan menjadi pengekor. Indonesia mejadi melupakan akar sejarahnya, bingung ditempatnya berdiri, sedang dimana dan akan kemana. Bangsa kita telah biasa menyerap utuh segala kebaruan yang ada. Kemudian biasa memulai pekerjaan baru dan membuang segala pencapaian yang telah dilalui. Terkesan ada masalah dalam keberadaan ideologi bangsa kita. Dan jika diperhatikan pendidikan Indonesia saat ini terkesan prematur. Akan sulit dibayangkan kemajuan apa yang mungkin dihasilkan melalui pendidikan kita. Atau kita memang hidup dalam kondisi yang serba prematur, cara kehidupan yang dijalani belum pada waktunya. Telah terjadi pada kita anggaran belanja yang ketat walau sifatnya kebutuhan hidup orang banyak. Infrastruktur-infrastruktur ekonomi, misalnya saja pertanian, belum terbangun kuat dan juga minimnya subsidi yang di-investasikan. Belakangan marak berita soal industri-industri kecil menengah tak terdukung dan dibiarkan tumbang. Dan dengan wawasan pendidikan yang didapat melalui pendidikan kita saat ini, usaha apa yang mungkin dilakukan nantinya? pembangunan atau penelitian macam apa?  kebutuhan apa yang mesti segera dipenuhi? bagaimana dengan pembangunan SDM sebagai rekan-rekan kerja samanya dimasa depan? dan juga pertanyaan lainnya.
Tulisan yang terlalu panjang memang selalu membosankan. Tulisan ini akan diakhiri dengan kecurigaan telah hilangnya nilai-nilai pendidikan. Dengan logika komersil cita-cita pendidikan tak diemban oleh siapapun, pendidik atau terdidiknya. Sebagai negara yang menaungi kehidupan kita, pertanyaan yang memang wajar untuk diajukan dan dijadikan masalah: akan menjadi seperti apa Indonesia dalam IPOLESOSBUD HANKAM? Masalah yang mungkin timbul ideologi yang menipis dan tak tentu arah. Kemudian politik yang terlalu mapan hingga dialektika tak mengalir dan ekonomi yang tak membangun apapun dan berpotensi menimbulkan masalah-masalah lain. Selanjutnya aspek sosial masyarakatnya yang tanpa integrasi, juga tak aman, hingga hilangnya daya tawar negara. Budaya yang berkembang menjadi dangkal dan saling merugikan. Dan yang terakhir tidak terkelolanya pertahanan dan keamanan, hilangnya kedaulatan negara, dan juga menipisnya bela negara. Saya merasa perlu menggambarkan kemungkinan terburuk IPOLESOSBUD HANKAM yang mungkin saja terjadi. Akan sangat sayang jika hal-hal tersebut menimpa kita nantinya.
Ini adalah bayangan yang buruk, semoga memang terlalu buruk hingga tak menjadi mimpi buruk.Lalu bagaimana cita-cita Trisakti yang penah digantungkan tinggi-tinggi? Semoga perhatian penuh ada dalam hari-hari kita karena membangun sistem dan struktur yang baik saja tidak cukup. Kita tentu tidak bisa membiarkan semuanya berjalan sendiri tanpa memastikan semua telah tepat berjalan pada jalurnya. Ketakpedulian akan menimbulkan kebingungan. Jika corak hidup bangsa hanya menggambarkan ketidak pedulian, lalu manusia terhormat mana yang layak dihormati?



Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*